Eid Mubarak 1447 H

Ditulis oleh M. Makhrudin

Lebaran datang seperti seorang musafir tua yang tidak mengetuk pintu,  
ia hanya berdiri di ambang waktu, menatap kita dengan mata yang penuh pengertian.

Aku tidak tahu sejak kapan perjalanan ini dimulai
barangkali sejak pertama kali aku belajar menyebut dunia sebagai milikku,  
dan perlahan melupakan bahwa aku hanyalah titipan dari Yang Maha Memiliki.

Ramadan telah berlalu seperti sungai yang diam-diam membawa banyak hal pergi:  
lapar yang ternyata bukan sekadar tentang perut,  
haus yang ternyata bukan sekadar tentang tenggorokan,  
dan rindu yang tidak pernah selesai dijelaskan oleh kata-kata.

Di suatu malam yang sunyi, aku pernah bertanya pada diriku sendiri:  
“Sejauh apa aku telah berjalan menjauh?”

Dan tidak ada jawaban
hanya dada yang terasa penuh,  
seperti ada sesuatu yang lama ingin pulang,  
tetapi tidak tahu lagi jalan pulangnya.

Lebaran ini, aku tidak ingin sekadar merayakan.  
Aku ingin berhenti.

Berhenti menjadi seseorang yang selalu merasa benar,  
berhenti menjadi hati yang terlalu keras untuk mengaku salah,  
berhenti menjadi jiwa yang berpura-pura utuh  
padahal retaknya terdengar sampai ke langit.

Aku belajar bahwa meminta maaf bukanlah tentang merendahkan diri,  
tetapi tentang mengembalikan diri ke tempat yang semestinya:  
seorang hamba,  
yang tidak pernah benar-benar bersih,  
dan selalu membutuhkan ampunan.

Ketika tangan-tangan saling berjabat,  
aku sadar
yang bersentuhan bukan hanya kulit,  
tetapi sejarah panjang dari luka, harap, dan penyesalan  
yang akhirnya memilih untuk berdamai.

Aku memaafkan,  
bukan karena semua telah selesai,  
tetapi karena aku lelah membawa beban yang tidak pernah benar-benar milikku.

Aku meminta maaf,  
bukan karena aku sepenuhnya mengerti kesalahanku,  
tetapi karena aku tahu
aku telah melukai, bahkan tanpa sadar.

Lebaran adalah cermin,  
dan hari ini aku melihat diriku sendiri tanpa hiasan:  
penuh cela, penuh kurang, penuh lupa.

Namun anehnya, di situlah aku merasa paling dekat.

Seolah-olah Tuhan tidak menunggu kita menjadi sempurna untuk kembali,  
tetapi hanya menunggu kita jujur
bahwa kita telah tersesat cukup lama.

Di balik gema takbir yang berulang-ulang,  
aku mendengar sesuatu yang lebih sunyi:  
sebuah panggilan untuk pulang.

Bukan pulang ke rumah,  
bukan pulang ke kampung halaman,  
tetapi pulang ke dalam diri
ke tempat di mana aku pernah mengenal-Nya,  
sebelum dunia mengajarkanku banyak hal yang salah.

Hari ini, aku mengenakan putih,  
bukan sebagai simbol kesucian,  
tetapi sebagai pengakuan
bahwa aku ingin dibersihkan.

Jika ada yang bertanya apa arti Lebaran bagiku,  
aku tidak akan menjawab dengan kata-kata besar.

Aku hanya akan berkata:  
ini adalah hari ketika aku berhenti berlari,  
lalu menoleh ke belakang,  
dan akhirnya mengerti
bahwa selama ini, aku tidak sedang mencari jalan,  
aku hanya sedang berusaha kembali.

Selamat Lebaran.  
Jika aku pernah menjadi luka dalam hidupmu,  
izinkan hari ini menjadi awal dari sembuhnya kita.

Dan jika kita sama-sama pernah tersesat,  
semoga hari ini kita tidak lagi saling menyalahkan arah,  
tetapi berjalan bersama,  
menuju Dia yang tidak pernah berpaling.

Karena pada akhirnya,  
yang kita cari bukanlah dunia yang sempurna,  
melainkan hati yang mau pulang.